Terlihat seorang gadis yang sedang memandang
langit yang indah. Setiap hari gadis itu berada ditempat itu. Sebuah taman yang
hanya ada langit biru yang tetap setia
membuatku tentram dan ilalang yang terus bergerak mengikuti angin. Hanya
di tepat inilah dia menemukan inspirasi.
Hal yang membuat dirinya tenang ialah memandang langit, kata-kata yang
sangat ia sukai tentang langit ialah “Untuk langit yang bisa kupandangi setiap
hari tapi tak bisa ku gapai”. Dia adalah Rumi Dwi Sukma, atau akrab di sapa
Rumi, seorang gadis yang sederhana, menyukai keindahan alam, memilki jiwa
petualang, dan hobinya adalah memotret.
Suatu hari aku tidak sengaja bertemu dengan
seorang pria. Perawakan orang itu tinggi, putih, memilki lesung pipi dan mata yang
indah, dan dia sepertinya bukan orang Indonesia, aku tebak dia itu orang Asia
tepatnya Korea. Dia hampir saja jatuh ke jurang yang ada dipinggir taman itu.
Untung saja aku langsung memegang tangan orang tersebut. Dan akupun langsung
menarik dia keatas, dengan sepenuh tenaga aku berhasil menarik dia agar tidak
jatuh ke jurang tersebut. “Kau baik-baik saja?” tanya ku kepada orang itu. “Ya,
saya baik-baik saja” Jawab orang itu, ternyata dia lumayan bisa berbahasa
Indonesia meskipun dengan logat korea. “Oh, syukurlah” Kata ku. “Terima kasih
atas bantuannya , Nama saya Park Chanyeol, senang bertemu dengan mu”. Ujar orang
tersebut sembari memperkenalkan dirinya. “Sepertinya aku pernah dengar nama
itu, tapi dimana ya?, Ah, iya dia itu member EXO!” Ujar ku dalam batin sambil
mengingat-ingat nama itu. “ Ah ne, Cheonmaneyo, Naneun Rumi~ya imnida, Bangapseumnida”
Jawab ku menggunakan bahasa korea tapi dengan sedikit logat Indonesia. “ Kamu
bisa bahasa korea?” tanya Chanyeol kepada ku. “Ne, tapi hanya sedikit, masih harus belajar
lagi” jawab ku sambil tertawa kecil dan Chanyeol pun ikut tertawa. “Kita
lanjutkan pembicaraan kita disana saja, tidak enak kalau kita bicara didekat
jurang” kata Chanyeol beranjak dari tempat kita ngobrol tadi.
Kami pun duduk di kursi taman yang panjang. “Apa
kamu sering ketempat ini” Ujar Chanyeol. “Iya” Jawab ku singkat. “Apa yang membuat mu menyukai
tempat ini?” “Aku suka karena aku bisa melihat langit setiap hari disertai
dengan angin yang berhembus”. Jawab ku sambil memandang langit. “Oh begitu” .
“Lalu, apa yang membuat mu datang kesini, apa kau tidak sibuk, kau kan seorang
artis?” “Sama seperti mu, aku ingin melihat langit, dan sekitar ku, tapi kenapa
kau bisa tahu aku seorang artis?”. “Aku seperti pernah mendengar nama mu, kau
itu member EXO kan”. “ Aku tahu pasti kau itu fans ku, ya”. “Aniyo, aku bukan
EXOTIC’S tapi aku VIP’S , aku hanya tahu melalui berita K-POP saja”. “Ah begitu ya” Jawab nya dengan nada yang
terlihat sedikit kecewa.
Aku
melirik jam yang ada di tangan ku. Pukul 15.46 wib waktu untukku pulang. “ Maaf
sepertinya aku harus segera pulang, kalau ada waktu kita mungkin bisa lanjutkan
mengobrol kita” Jawab bersiap beranjak bangun dari tempat duduk. Tapi ada
tangan yang menahan ku. “Aku di Indonesia hanya 2 bulan, bisakah kita bertemu
lagi setiap hari?”. Aku pun duduk kembali dan Chanyeol melepas pegangan tangan
nya dari tangan ku. “Boleh pinjam ponsel mu” pinta Chanyeol. “ Ah, Ne,” jawab
ku sambil mengeluarkan ponsel dari tas dan heran kenapa dia meminjam ponselku.
Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan dia memijat nomor di ponsel ku, sepertinya
dia akan menelpon. Dan benar saja dia sedang menelpon menggunakan nomor ku
untuk menghubungi nomor ponselnya. Aku hanya diam saja atas apa yang sedang Chanyeol
lakukan. “ Ini untuk aku bisa berjumpa mu disini lagi, apa kau akan kesini
menemui ku lagi?” tanya Chanyeol sambil memberikan ponselku dan menatapku.
“Berjanjilah kau akan menemuiku setiap hari disini?”. Pertanyaan Chanyeol
membuat ku sedikit terkejut, apa dia serius ingin aku menemui dia setiap hari,
apa aku sedang bermimpi bahwa ada seorang Idola K-pop mengajak ku untuk bertemu
dengannya. “Apa kau serius dengan perkataan mu” tanya ku heran. “ Ya, aku
serius” jawab Chanyeol dengan tegas. Aku akhir nya memutuskan menjawabnya Iya.
Dan aku langsung beranjak dari tempat duduk meninggalkan Chanyeol sendirian.
Aku melihat raut muka Chanyeol yang sumringah disertai senyuman kecil.
“Rumi~ya”
Teriak Chanyeol saat aku berjalan dan aku pun menoleh. “Aku akan menghubungimu
nanti, tunggu saja ya!” teriak Chanyeol kepada ku. Dan aku pun balik
menjawabnya dengan berteriak “ Oh, geurae” .
Lambaian
tangan mengakhiri pertemuan kami yang tidak sengaja ini. Aku tidak tahu ini
disengaja atau sudah ditakdirkan terjadi. Tapi kenapa aku merasa senang bertemu
dengannya.
Hari
terus berjalan, tanpa terasa 2 bulan hampir berlalu. Ini adalah hari dimana Chanyeol
akan pulang ke negaranya. Aku pun langsung menuju tempat kami bertemu pertama
kali. Aku melihat Chanyeol sudah ada disana. “Oh, kau sudah ada disini” tanya
ku baru tiba. “ Aniya, aku baru saja datang kok” jawab Chanyeol senang melihat
ku. “Hari ini kau akan pulang kan?” tanya ku. “ Ne, tapi sebelum itu aku akan
mengatakan sesuatu kepada mu ... “. “ Iya, ada apa ?” tanya ku keheranan melihat
Chanyeol menggantung kata-katanya.
Tanpa
basa-basi Chanyeol langsung mengatakan isi hatinya kepada Rumi. Bahwa Chanyeol
menyukai Rumi sejak mereka bertemu pertama kali. Rumi yang terkejut mengetahui
hal itu tak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa terdiam mematung. Chanyeol
menanyakan apakah dia menerimanya atau tidak. Tapi Rumi menjawabnya dengan ...
“
Untuk langit yang bisa ku pandangi setiap hari tapi tak bisa ku gapai, Seperti
itulah kau”.
Rumi
menahan tangisnya menutupinya dengan tangannya. Lalu Chanyeol melihat ada sebuah
cincin yang melingkar di jari manis Rumi, seperti cincin pertunangan. “Apa kau
sudah bertunangan” tanya Chanyeol to the point. “Iya” jawab Rumi tertunduk tak
mampu menatap Chanyeol. Seakan tak percaya, Chanyeol hanya bisa mengatakan kata “
Benarkah?”. Rumi pun akhirnya bisa menahan tangisnya. “Tapi, meskipun begitu
kau senangkan bertemu dengan ku” tanya Rumi dengan nada menahan tangis dan
mengulurkan tangannya. “ Iya, aku senang, bahkan sangat senang bertemu dengan
mu” jawab Chanyeol menatap Rumi sambil menerima uluran tangan Rumi. Lama Chanyeol
menggenggam tangan Rumi, seakan tak rela Rumi menghilang dari pandangannya, Chanyeol
memegangnya dengan sangat erat. “Tolong lepaskan Chanyeol, aku rasa sampai
disini saja, aku harus pergi” ujar Rumi berusaha melepas genggaman tangan Chanyeol.
Chanyeol akhirnya melepaskan genggamannya meskipun dia tidak rela. “Kalau
begitu sampai bertemu lagi” kata Rumi sambil tersenyum pahit.
Rumi
berlalu meninggalkan Chanyeol sendirian. Dan dia akhirnya menangis tanpa suara
di sertai dengan iringan suara angin yang berselir.
~Dengan langit aku bisa merasakan kau yang merindukan ku~
~Dengan langit aku juga bisa melihatmu melukiskan nama ku
diatas goresan langit yang biru~
~Dan dengan langit pula aku pun bisa memandangimu meskipun
takan pernah bisa ku gapai~
Penyuka Langit dan Embun
Dwi Yulia Ningsih